RSS

Kamis, 20 Januari 2011

Rumah impian


Indah pada waktunya, kalimat yang sering sekali diucapkan baik oleh saya sendiri ataupun orang lain di sekitar.

Jadi teringat saat 2 tahun yang lalu, ketika lagi semangat sekali ingin punya rumah sendiri, dan kemudian menemukan lokasi perumahan yang lumayan dekat kantor. Lumayan mahal, maklumlah letaknya depan jalan utama terus lokasinya pas depan kantor Polres, tapi tidak mengapalah karena pikirnya kita bisalah menutupnya dengan penghasilan yang kita peroleh.

Awal masukkan tandi jadi dan panjar 50 % maunya kita ingin rumahnya segera di bangunkan supaya bisa secepatnya kami tempati, tapi ternyata pihak pengembangnya belum bisa melaksanakan dengan alasan lokasi yang kami dapatkan terletak di bagian belakang sedangkan yang harus didahulukan adalah yang bagian depan.

Waktu itu kita mikir tidak apalah, lagi pula tidak terlalu mendesak juga karena masih ada rumah orang tua yang masih bisa kita tempati dan sekalian merawat rumah tersebut karena orang tua bermukim di kota Makassar.

Karena terlalu sibuk dengan kerjaan, lokasi perumahan yang sudah kita panjar pun tidak sempat untuk dikunjungi sekedar melihat perkembangan bangunan sampai kemudian berlalu hingga 2 tahun lamanya.

Pas Desember tahun lalu saya sempatkan berkunjung ke kantor perumahan untuk melihat sekalian bertanya kelanjutan pembangunan rumah kami, dan memang pembangunan baru sebatas pondasi, kaget dan rasanya gimana yah karena selama jangka waktu 2 tahun yang jadi baru pondasi?, oleh pihak pengembangnya beralasan faktor hujan yang mengakibatkan jalan ke bagian belakang perumahan tidak bisa tembus untuk mengangkut material bangunan, yah biasalah pasti selalu ada alasan, dan kemudian pihak pengembangnya berjanji akan dibangun tahun depan yaitu di tahun 2011 sekarang ini.

Alhamdulillah bulan Januari ini pembangunan rumahku dilanjutkan lagi, dan pihak pengembangnya berjanji dalam waktu tiga bulan telah rampung, insya Allah. Bahagia rasanya walaupun harus tertunda selama 2 tahun, malah justru berpikir memang di tahun inilah waktu yang indah karena dana yang harus disediakan untuk kelanjutan bayaran rumah baru terkumpul di tahun ini, seandainya pihak pengembangnya telah menyelesaikan rumah itu di tahun lalu sepertinya kami akan kerepotan mencari tambahan dana.

Memang hanya Allah yang Maha mengatur, Maha Mengetahui yang terbaik buat hambaNYA, Alhamdulillah dimasa - masa menuggu 2 tahun itu dibimbing untuk tetap sabar.

Ya Allah jadikanlah rumah baru kami sebagai sarana buat kami sekeluarga lebih bersujud dan beribadah padaMU, Amin ya Rabb.














Selasa, 11 Januari 2011

Mengekspresikan Perasaan


"Kisah tentang dua pengembara yang mengekspresikan perasaannya pada pasir dan batu"

Ada dua orang pengembara sedang melakukan perjalanan, mereka tengah melintasi padang pasir yang sangat luas, debu-debu pasir yang beterbangan memaksa mereka berjalan merunduk.

Tiba-tiba badai gurun datang, hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu limbung, mereka saling menjaga satu sama lain dengan berpegangan tangan erat. Mereka mencoba bertahan melawan ganasnya badai.

Badai pun reda, tapi musibah lain datang menimpa mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya berceceran, entah gundukan pasir mana yang telah meneguknya. Kedua pengembara itupun duduk temenung meratapi kehilangan itu. " Waduh, tamat riwayat kita" kata Hasan salah seorang diantara mereka, lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya. "Kami sedih, kami kehilangan bekal minuman kami di tempat ini." Kawannya, Taufik tampak bingung namun mencoba tabah.

Setelah lama menyusuri padang pasir, mereka melihat ada oase di kejauhan. "Kita selamat" seru salah seorang dari mereka. Dengan sisa tenaga yang ada mereka berlari ke oase itu, benar-benar sebuah kolam, mereka pun segera minum sepuasnya dan mengisi kantong air.

Sambil beristrahat, Hasan mengeluarkan pisau genggamnya dan memahat di atas sebuah batu ditepian oase. "Kami bahagia, kami dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini. Taufik heran, "mengapa kini engkau menulis diatas batu, sementara tadi kau menulis di Pasir?"

Hasan tersenyum, "saat kita mendapat kesusahan, ujian dan cobaan apapun, tulislah semua itu dipasir, biarkan angin keikhlasan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan catatan itu hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan, biarkan semuanya lenyap dan pupus, namun ingatlah saat kita mendapat kebahagiaan, pahatlah kemuliaan itu dibatu agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan kesenangan itu dikerasnya batu agar tak ada yang dapat menghapusnya, biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada, biarkan semuanya tersimpan.

Kesedihan dan kebahagiaan akan senantiasa hadir silih berganti mewarnai kehidupan ini. Keduanya mengguratkan memori di hamparan pikiran dan hati kita. Namun adakah kita bersikap seperti pengembara itu? Adakah kita ini sosok tegar yang mampu melepaskan setiap kesusahan bersama terbangnya angin ketulusan?
(Cerita dikutip dari buku "Dahsyatnya Sabar" by Ahmad Hadi Yasin)

Saya masih dalam proses belajar dan mencoba mencontoh sikap pengembara itu, karena menyimpan kesedihan terlalu lama akan membuat hati sungguh tak lapang, belajar melepas kesedihan secepat mungkin dan menggenggam kebahagiaan selamanya.


Selasa, 04 Januari 2011

Masa demi masa


Lihatlah masa lalu dan tataplah masa depanmu. Dalam hidup ini selalu ada ujian, ia akan selalu datang silih berganti. Maka, setiap orang harus bisa keluar dari ujian itu sebagai pemenang. Peristiwa demi peristiwa, meski hanya keburukannya yang kau rasakan maka keburukan itulah yang akan mengajarmu tentang bagaimana kenikmatannya. Sesungguhnya umurmu adalah permata yang sangat berharga sekali dan tidak dapat ditukar dengan harta sebanyak apapun. Pada hakikatnya umur adalah hembusan demi hembusan nafasmu, dan setiap nafas yang telah engkau hembuskan tidak akan pernah kembali untuk selama-lamanya. Nafas adalah modal hidupmu. (semua kalimat di atas saya kutip dari "Menjadi wanita paling bahagia" by Dr. 'Aidh al-Qarni)

Setahun begitu cepat berlalu tanpa terasa, banyak sudah suka dan sedih tercatat dalam rentang waktu setahun itu. Ditahun yang baru saja berlalu itulah saya menemukan bahwa anugrahMU bukan hanya dalam suka tapi duka pun adalah anugrah dariMU.
Setahun kemarin itu adalah perjuangan diri dalam melawan diri sendiri, baik itu berupa keraguan, kesedihan, kemarahan, kecewa dan sempat terhinggapi putus asa yang kemudian sampailah pada ujung rasa PASRAH pada kehendakMU.

Dalam nama2 indahmu ENGKAU adalah Al-Jabbaar (Maha pemaksa), dengan sifat itulah diri tersadar untuk mengakui bahwa sungguh2 "tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolonganMU", hanya kepadaMU lah diri berkeluh kesah tentang semua yang menjadi beban hidupku. Saya ingin menikmati semuanya dengan kesabaran karena berharap semua adalah bagian dari penghapus dosa2 yang telah saya buat.

Ya Rabb ajari diriku untuk selalu bersyukur, bersabar dan menguatkan kesabaran karena hanya berita gembira yang akan ENGKAU berikan untuk orang2 yang sabar.

Harapan selalu indah untuk tahun yang baru, itu sudah pasti. Izinkan ya Allah ujung yang manis itu ada ditahun baru ini buat keluarga, kerjaan dan kantor keduaku dan yang terutama buat keindahan HATIKU sehingga bisa melahirkan akhlak yang mulia karena cahayaMU dan dengan penuh harapan bisa memiliki keturunan yang bisa saya ajari mencintaiMU dan Rasulullah SAW yang kelak akan menjadi perisaiku di hari kemudian, AMIN.